Khamis, 21 Mac 2013

Badai Kemaafan



Tika bergelora badai 
menongkah arus tiada gunanya
impian terhumban dilaut ganas
membuta tuli bercabang amarah
akukah atau diakah atau merekakah
kan rentung atau abu pengakhirannya 
apakah tambatan lalu dijadikan sandaran
pengulangan demi pengulangan
sampai bila harus dihentikan
bertunjang arang berkerat rotan
menjadi kesalan sepanjang nyawa
ataukah mengimpikan diri
menjadi tuhan 
bertuhankan nafsu 
darah diabaikan
sedang menetes tanpa henti
selagi mentari masih terik memancar
kapankan malam datangnya aman

andai mengerti permainan alam
gerak tari bisa ketahuan
datangnya ia bisa terhadam
dgn tenang tercerna lumat
berkat pengerak terserlah sudah
nafas lega tenang lah ia
andai yg lara 
sudah disangkut
dalam belenggu almarimu
biarkan ia usang disitu
usah dibiar beraja dikalbu
kelak diri terhukum sudah
suratan azali di skrip tanpa henti

menyemai benih kemaafan
pada pembunuh nyawa
pada pelebur sapaan
pada mereka-mereka 
yg tandus peri keinsanan
itu bukan mudah tuk dicicipi

bagai diricih-ricih 
bagai ditusuk-tusuk
luka parah dicincang-cincang
namun adaptasinya tetap sama
hakikat gerak ternyata sudah
diamku diamnya
mengetas-getas akal fikir
melayang dibahtera masa
dicebisan waktu ini
bermulalah

kisah aku dengan diriku
singkaplah tabir demi tabir
langkah dihayun usah berhenti
selaman ke dasar tak bertepi
muhasabahmu semakin bererti
cerminan harus dibersihkan
agar cerah gambaran dihadapan
agar tenang dirimu dan diriku
yang nyata tetap satu
dibilang tidak 
terbilang tiada
hakiki membulatkan
bulat bukan rupa
rupa bukan segala
namun wajahnya ia juga

usah disempitkan dengan wajahku
wajahku ada dimana-mana
peri hakiki mahupun batil
tetap wajahku jua adanya
usah terbuai dek rencanaku
biar terbuai dgn kesempurnaanku
wujudku yg tiada taranya
menilaikan sekam dan padi
menilaikan kaca dan permata
namun tetap 'adam jua akhirnya

berlalulah....
berlalulahhh...
berlalulahhhh... 

agar kesemaian benih kemaafan itu
bisa menenangkan badai gelora 
pd yg sering bersangka-sangka

ketelanjuran manusia bisa menjengkelkan
apalagi bisa membunuh jiwa-jiwa
bisa menghiris jiwa luhur
namun pintu taubat bukan milik ku
Pintu Taubat milik DIA
melangkahlah kakimu kesana
kerna disana dirimu akan tersepuh
andai keikhlasan yg terbetik itu 
punya ketulusan yg suci
biar redha dan pasrah itu menemani
agar kau tak bisa sendirian
agar tak berkebalikan

Astaghfirullah....
Astaghfirullahhhh....
Astaghfirullahalaliyyul Adzimmmm....

Waman yattakillaha yajallahu makhraja.
Wayarzukhu minhaytsu la yahtasib, 
waman ya tawakkal alallahi fa huwa hasbuhu. 
Innallaha balighu amri, qad jaalallahu likulli syain qadra" 

At Thalaq 2 - 3

"... Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. 
Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu" 
At Thalaq 2 - 3


Semoga Allah memberkati jiwa-jiwa yang tandus ini
dengan jalan keluar yang menenangkan lagi melapangkan
agar jiwa-jiwa ini dapat kembali kepadamu
dengan pengembalian yg benar lagi hakiki

hasbunallah wa nikmal wakil
nikmal maula wa nikman nasir


Aaminnn

Sabtu, 16 Februari 2013

Lautan Asmaraku...



Bila mentari melabuhkan sinarnya
akukah atau siapa yg melayarkan bahtera
perahuku masih bergerak
tanpa angin cuma alun sang air
melagukan lagu geloranya

apakah mau ku sangsikan
bilamana kenyataan keberlangsungan
telah termatri kemas
berjahitkan sulaman kesempurnaan
tanpa perlu ada dakwaan
tanpa perlu ada bukti
meskipun tidak ternyata jelas
dipandangan yg penuh lumpur

apakah aku yang menafi
atau engkau yg masih enggan menyelami
hatta kenyataan yg terpancar
melewati pancaran mentari
panas dan membakar akan kebenaran itu
hinggakan tak bisa kau tepis..

mengapa perlu berselindung
pada gelapnya malam
sedangkan malam itu
jelas terbentang akan diriNYA
dalam keghaiban kegelapan
meskipun tanpa bulan dan bintang
tetaplah DIA tiada lainNYA

usahlah kau semaikan
butiran-butiran kesangsian
usahlah ku ceruni tangga2 persoalan
yg memungkinkan kau tergelincir oleh kata
dan perilakumu sendiri
kerna memperihalkan tentangNYA
amat abstrak dan seni
dialah Yang Awal dan Dialah yang Akhir
meskipun kau berada dinoktah
perhentian yang tiada bersempadan

pun begitu
aku lega dan penuh syukurku
kerna Aku memimpin aku
keserata kehendakNYA
tanpa perlu ku buktikan segala
tanpa perlu ku bersusah payah
meskipun engkau juga mengusulkan
untuk membuktikan persoalanmu
namun tetap ku tersenyum
kerna engkau jualah yg berselindung
dibalik sangkaan dan telahan itu

biarlah aku dlm kenikmatan itu
sehingga keinginanmu menggangkatku
dipersana kemahuan dirimu
keserata alam yg memanjikan persadannya

Ahhhhh
lautan asmaraku membuakkan kenikmatan
kekenyangan yg tak perlu ku suap
menenggelamkan aku dalam lautan kanzulmu
bahral qudramu itu satu
kesanggupan yg resmi
menjalin wajah warna pelangi
menitihkan jalinan warna keghaiban asli
akan wujudmu ilahi....

Tandus tak bersari
memaparkan wajah keluhuran nan asli
semakin memudarkan wajah-wajah sandaran
menerbitkan satu-satunya
wajah keesaan
akan diriMU


aminn...


Rabu, 30 Januari 2013

Tabir Penyaksianku.

Bismillahirrohmanirrohim...


Bilamana segala penyaksian
disaksikan olehmu
akan segala yg terpatri
dimetrikan padanya
yang tersirat dan tersurat
dibalik setiap
nama itu bermula dari AsmaNYA
dibalik setiap Perbuatan Nyata atau Ghaibnya itu dari Afa'alNYA
disebalik Setiap Sifat yang ternyata dan tergaib didalam padanya itu dari SifatNYA jua
Setiap Zat yang ternyata dan terghaibnya ia itu padanya dari ZatNYA jua

Bila nyata sudah perihalnya
tidak dapat diselindungkan lagi antara ghaib dan Nyata
kerna kemutlakkan diriNYA 
diatas segenap apa jua yg disaksikan itu
bersaksikanlah olehmu akan perihal 
yang menepati seluruh ilmu yang dinisbahkan kepadaNYA

Jeliralah pandangan dan rasa
nikmat yg saling bersahutan
antara sifat yang disifatkan
menuju kepada Zat yang disifatkan padaNYA

semakin tidak berketepianlah segala yang terindah
segala yang pernah digariskan dan dikiaskan
segala yang pernah diumpamakan dan digambarkan
menjadi infiniti yang tidak berkesudahan dan tiada hendak diawali
kerna DIAlah segala yang awal lagi memulai akan segala yang dizahirkan
menyatakan siapa diriNYA itu
melalui jalan-jalan yang terang hingga yang teramat sulit tuk difahamkan 
oleh akal yang zahir hingga menjurus akal nan quddus
bersemilah satu persatu ..
diungkaikan akan satu persatu
hingga kemas tersusun rapi segala yang dijadikan
dibawah payung
Kun Fayakun

dibawah lebaran panji TIADA
difitrahkan segala Yang Ada..
Yang tiada selainNYA...

Ya Haqqul Mubbin
Ya Haqqul Qalam
Ya Haqqul Basirul Mutakalliman
Ya Dzul Jalali wal Ikram

Putaran demi putaran
merangkaikan segala rangkaian
indah ciptaan tiada tara
tiada yang mampu digambar dan dinyatakan
raihlah dialam kasihNYA
raihlah dialam rahmatNYA
raihilah Dia yang Menyatakan akan DzatNYA yang Mutlak lagi Agong Lagi Maha Sempurna 
akan percaturanNYA yang cukup tertib di Singgahsana KerajaanNYA


Berjalanlah aku dgn kesadaran ini
menyatakan siapa aku bertubuh berjasad yang berlimitasi
untuk meraih tugas dan amanah diberi
hingga kembali semula kesisi
bila disahut dipimpin tatkala dijemput
membuka petala kesekian kalinya
merestui akan jasad awali
yang dijaga rapi dilokasi
merindukan akan semuanya
merindukan akan wajahku 
diazalinya Aku...

Aminnn

Rabu, 31 Oktober 2012

Sehelai rambut dibelah tujuh....Tajam bak pedang yg menghunus..

Pandangan mikro sehelai rambut


Begitulah Al-kisahnya perihal titian Siratul Mustaqim yg diperihalkan terhadap kita... titian yg umpamanya sehelai rambut yg dibelah tujuh dan tajamnya pula setajam mata pedang yg menghunus,..apakah saja penceritaan ini hanya peristiwa semasa diakhirat sahaja yg boleh kita perihalkan?

Pandanganku sebegini halus lg mikro akan sehelai rambut itu adalah diumpamakan seumpama diri kita...seumpama pegangan dan iktikad kita.. adakala dalam perjalanan diri kita tuk mengenal diri dan mengenaliNYA itu akan sampai disuatu ketika nanti iktikad dan pegangan kita akan diuji secara sgt terperinci... sejauh mana iktikad dan pegangan diri kita...sehinggakan ianya diumpamakan bak sehelai rambut dibelah tujuh..sebegitu halus dan seninya akan cabang perjalanan akan kebenaran demi kebenaran itu... akan kita tempuhi lagi kebenaran demi kebenaran lagi yang saling menyeliputi sesama diantaranya... antara kebenaran itu ada dimensinya tersendiri. Boleh saja satu diantaranya bertikam diantara sesuatu yang lain andai yg memahaminya itu menghadkan akan cabang mindanya... cabang kebenaran yg menyeliputi itu adakalanya sangat tajam dan halus..yg memungkinkan untuk mendapat penolakkan dari pandangan kebanyakkan yg melihat dan memandang...

Sesungguhnya itulah sesuatu yg dapat kau fikirkan dan telah dikurniakan... tanpa kau bersusah payah.. mengertilah akan perihalnya...sesuatu itu sangat dangkal bagi mereka2 yang menafikan.. 

Disegenap acara yang terhampar itu , cuba kau fitrahkan utk dibelah menjadi 7 cabang pandangan yg berbeza2,....setiap cabang itu akan mempunyai perihalnya tersendiri...mempunyai cerita dan kebenarannya tersendiri.. berdiri pada setiap belah cabang pandangan tersebut yg mengukuhkan pandangan dan  iktikad daripadanya pula sangat tipis dan tajam yg terus bisa menghunus dombaan palsu... kebenaran itu saling bersulaman diantaranya ..apatah lagi dimensi demi dimensi kau aturkan penjelajahanmu..

Saksikanlah kebenaran demi kebenaran , Haq yang terbina diatas perjalanan Haq itu... Usah kau persoal dan berbasa basi... kerna pasti kau takkan sabar bak perihalnya Nabi Musa dalam perjalanannya dicabang antara dua lautan itu... 

Wallahua'lam...

Jumaat, 24 Ogos 2012

Salam 'Eidulfitri 1433H


Bismillahirrohmanirrohim...

Salam Kemaafan dariku... sungguh kehidupan ini sgt memeritkan hatta menyakitkan... andai kematian itu milikku nescaya sudahku dahului untuk kembali kepadaNYA...namun kematianku  itu milikNYA... apakah begitu mudah untuk aku mengaku kalah dan berputus asa padaNYA? Astagfirullahiladzimm... mengapa harus aku bermuram durja dgn kurniaan ujian dan dugaanNYA?

Bersabarlah dgn penuh ketakwaan...keyakinan yg putus...agar hatimu tenang... setenang air yg mengalir dikali... yg tetap sabar menangguk setiap kekotoran padanya untuk dialirkan kemuara.. Usah kau berputus asa akan rahmatNYA... biarkan segala-galaNYA mengikut ketentuan dan kehendakNYA.. Siapa aku tuk bicara kerna AKU lah Yang Maha Pengatur lg Maha Bijaksana dalam PerancanganKU.

Namun , aku bukanlah sapa-siapa..hanya sekadar hambanya yg melukut ditepian mengharapkan rahmat kasih dan sayangNYA.. aku tak pernah lari dari kesilapan..dan dosa...perjalananku masih panjang...kerna bagiku dunia masih ada disitu... selayaknya aku perlukan keduanya...

Aku masih tak mampu menerjah emosi... runtunan perasaan yg seringkali bergejolak...terkadang memuntahkan lahar kemarahan... terpacul lahar memercik disegenap ruang alam.. Maafkan aku , kerna aku tak mampu tuk meraut mata busar setajam senjata menghunus musuh...

aku tertakluk pd keadaaan, ruang dan masa. peraturan alam dan ketentuan qada dan qadar , serta pukulan emosi dlm jajahan takluk persekitaran.. Janji yg ditabur terkadang terpaksa ku mungkir.... mana mungkin kita bersukaria dgn kemungkiran itu kerna ia sudah mencerminkan diriku...namun apakan daya... itu merupakan kelemahan dan keburukan dariku..aku akur dgn segala yg datang kepadaku..dari diriku...

Sungguhpun keraian yg dijanjikan itu tiba, aku meraikan dgn titisan air mata... mengenangkan Ramadhan kasihku meninggalkan ku..dimana aku harus berhadapan dgn segala macam perkara..selepas kepergiannya...
sungguhpun aku tidak meraikan bersama2 semua... bertemankan titisan demi titisan air mata.. merindukan peluk cium ibu tercinta... aku bersyukur kehadirannya menenangkanku...usahlah mak sedih... itu suratan diriku..aku pasrah...dan mengharapkan rahmat dariNYA... nantikan anakmu ini kembali padamu suatu saat nanti...mak nantikan anakmu ini... biarlah zahirmu tidak dapat ku paut , biarlah dlm kegelapan malam itu aku memeluk mak...dlm dakapan yg penuh kasih dan sayangmu...

sepertimana ibuku...aku amat merindui nendaku... aku disini teramat lama.. dimanakah nendaku... turunlah dipersada... aku amat merinduimu... aku amat merinduimu... sungguh perit tanggunganku ini..
berikanlah semangat wahai nendaku... kemarilah padaku... kerna aku tak mampu menggapaimu... tak mampu tuk memelukmu... wajahku yg aneh ini sering ditertawakan oleh mereka-mereka... ingin saja aku berada bersamamu kembali dipersada seperti mana dulu...namun udah tugasku disini... aku akur dan pasrah...aku akan terus terusan menjelajah alam ini dengan ketulusan dan keikhlasan setara yg tertulis.
moga ALLAH SWT memberiku kekuatan dan kekentalan hati dalam meneruskan saki-baki kehidupanku...

Sungguh, Eidulfitri kali ini, bukanlah kemenangan berpuasa menawan lapar dan dahaga sahaja..malahan kemenangan emosi yg mengganas bak singa lapar itu yg mengganas segenap segi itu agar bisa ditenangkan ...
Kau , aku dan dirinya... tetap satu... kembalikan kagebunsin no jitsu itu kembali padaku yg sebenar... resapi ilmu dari kesemuanya..nnti kau akan faham keberadaan itu... nantikan saudaraku yg berempat itu... persiapkan olehmu wahai jiwa2 yang berlari...

wallahu a'lam...

Allah hu Akhbar...Allah... hu  Akhbar...Allah..hu Akhbar
La illaha illallah....
Amin..